
Suasana lalu lalang di sekitar Braga Festival
Saya berkesempatan mengunjungi Braga Festival pada hari terakhir penyelenggaraannya, tanggal 30 Desember 2009 yang lalu. Berangkat dari Jakarta pukul 9 pagi, saya dan istri tiba di Bandung sekitar pukul 12 siang, kemudian mampir dulu ke rumah Uwa untuk mengambil motor. Siang itu hujan turun dengan manis manja, deras segan berhenti tak mau. Namun demikian tekad sudah bulat karena saya ingin menonton penampilan band The Panas Dalam yang selalu tampil atraktif dengan maupun tanpa Pak Haji Pidi Baiq (akan saya posting di album selanjutnya).
Akhirnya saya tiba di sana dengan selamat, motor saya parkir di Braga Citiwalk, mal yang konon kabarnya merupakan tempat yang tepat buat selingkuh.. apeuuu.. Suasana di Braga Festival kali ini kurang lebih sama dengan tahun kemarin. Stand-stand pangan dan sandang berbaris sesuai tempatnya. Ada pula stand-stand benda seni, kantor pemerintahan, pos, hingga cocooan budak (mainan anak).
Orang-orang mulai memadati arena ketika hujan mulai berhenti. Saya berhenti sejenak di panggung utama untuk menyaksikan penampilan The Panas Dalam. Setelah itu saya berkeliling-keliling melihat-lihat stand yang ada. Setelah salat maghrib saya melanjutkan perjalanan menuju Dago untuk berkumpul bersama teman-teman.
Acara Braga Festival kali ini secara umum biasa saja, mungkin pengemasannya harus disiasati supaya lebih menarik lagi. Satu hal yang penting, kampanya kebersihan yang selalu disampaikan oleh panitia sebaiknya diikuti dengan ketersediaan fasilitas pembuangan sampah yang memadai. Saya melihat sampah masih banyak berserakan di sepanjang jalan, namun saya juga jarang sekali menemukan tempat sampah. Semoga tahun depan Braga Festival semakin baik lagi.
Seperti biasa, sedikit foto hasil dari jalan-jalan di sana.. Memotret di jalanan seperti ini kadang membuat saya bersyukur bahwa Alloh telah memberi saya hidup yang cukup baik, bahwa di sana masih banyak orang-orang yang kondisinya secara ekonomi serba kekurangan. Namun saya kagum kepada mereka karena dibalik kerasnya hidup mereka tetap berusaha sekuat tenaga dan masih tetap tersenyum.