Saturday, May 28, 2011

L'alphalpha @ Heyfolks




Sedikit foto-foto dari penampilan L'alphalpha yang manggung di Heyfolks, Jalan Bumi Jakarta dalam acara yang bertajuk A Song 4 a Departure, sebuah event pemanasan sebelum Band ini, bersama Leonardo Ringo dan Themilo bertolak ke Singapura. Acara di Heyfolks ini cukup menarik bagi saya.. tantangan terbesarnya adalah menikmati musik dengan backsound suara klakson mobil atau deru mesin bis kota/kopaja yang melalui jalan itu. Kadang saat si musisi baru memainkan intro terdengar sayup-sayup teriakan "Puring.. Puring.." dari kondektur yang bertanya apakah ada penumpang yang hendak turun di pasar taman puring, yang letaknya tidak jauh dari sana.

L'alphalpha kini sudah menelurkan sebuah album yang berjudul "When We Awake, All Dreams Are Gone"... Untuk anda yang sudah bosan mendengarkan musik-musik yang sering ditayangkan di acara-acara televisi band ini sangat saya rekomendasikan.. untuk info lebih lanjut dan coba lagunya bisa buka link dibawah ini.. free download.. :-) ... jika suka.. mengapa tidak mendatangi toko CD atau memesan CDnya untuk mendengarkan seluruh lagunya..

http://deathrockstar.info/lalphalpha/







Friday, May 27, 2011

WSATCC @ Wedding Expo 2011




Saya hampir selalu memotret penampilan White Shoes and The Couples Company di konser-konser mereka yang saya datangi. Kalau melihat-lihat lagi tanggal saat foto ini diambil, berarti saya sudah cukup lama tidak menonton dan memotret mereka. Pertunjukan terakhir mereka di Gandaria City Sabtu yang lalu pun saya lewatkan karena misinformasi.. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa nonton lagi penampilan mereka.. :D..

Oiya, saya juga ingin mengucapkan selamat menempuh hidup baru untuk gitaris WSATCC, Saleh "Ale" Husein yang hari Minggu (29 Mei 2011) nanti akan melakukan prosesi ijab kabul didepan penghulu dan disaksikan oleh rekan2 dan kerabat keluarga, sehingga pernikahannya dengan wanita pilihannya yaitu Astrid Isnawati (Cito) akan menjadi sah secara agama dan hukum yang berlaku di Indonesia. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah dan warrahmah. Sebenarnya nanti saya ingin sekali hadir, namun kondisi saat ini yang harus siaga menunggu saatnya istri melahirkan, membuat saya tidak bisa bergerak bebas, jadi mohon maaf hanya bisa mendoakan dan membaca livetweetnya saja dari Jakarta.

Selamat menyimak foto-fotonya.. :D













Maliq & D'Essentials @ Traxkustik 2011




Setelah Themilo tadinya saya mau pulang aja, tapi yang manggung selanjutnya adalah band yang satu ini. Bukannya gak suka, Maliq and D'Essential ini termasuk salah satu band yang paling banyak ditonton oleh masyarakat di Indonesia, khususnya Jakarta, yang berarti penonton pasti padat dan motretnya bakal lebih susah karena berdesakan.

Setelah dipikir-pikir sayang juga kalau aksi panggung mereka saya lewatkan. Akhirnya saya coba ambil foto-fotonya selama beberapa lagu. Sulit juga merekam aksi panggung personilnya yang lincah dari tempat yang tidak leluasa, saya coba tidak terlalu memaksa tapi tetap berusaha memotret. Alhamdulillah ada beberapa yang layak.. mudah2an teman2 yang liat album ini juga suka.. :D

Enjoy the pictures..









Themilo @ Traxkustik 2011




Malam itu adalah pertamkalinya saya menonton penampilan Themilo tanpa drummer ori mereka, yaitu Budi Chilpollins yang pada saat itu mendadak sakit dan tidak bisa bertolak ke Jakarta. Posisinya digantikan oleh drummer seribu band kebanggaan kota kembang yang saat ini sering manggung bersama Homogenic, yitu kakak Gebeg. Walaupun masih tampak ragu-ragu Icuk pada satu-dua lagu yang drumnya sulit, namun kredit khusus untuk Gebeg karena ternyata beliau ini baru pertama kali berlatih bersama Themilo beberapa jam sebelum manggung.

Sesuai jargon Themilo, untuk menikmati musiknya cukup lakukan tiga hal, "LIGHT LOW, VOLUME HIGH, FANTASIZING".. dan biarkan pikiran anda terbang bebas..

Selamat menyimak foto-fotonya..












Endah & Rhesa @OZ Live n Loud




Sedikit menyesal karena ketinggalan kabar kalau White Shoes and The Couples Company juga tampil di acara ini, namun saya tetap terhibur dengan penampilan dynamic duo ini. Dengan aksi panggung yang selalu atraktif tanpa mengurangi kualitas bermusiknya, tak heran kalau ratusan muda mudi yang datang ke acara saat itu sangat menunggu-nunggu kehadiran Endah and Rhesa.

Selamat menyimak foto-fotonya. Mohon maaf lagi kejar setoran posting foto2 yang belum sempat diposting, jadi saya sepertinya gak bisa tulis banyak-banyak tentang acara ini.. :D













Friday, May 13, 2011

PS feat. Adhitia Sofyan @ FX




Hari sabtu tanggal 7 Mei 2011 yang lalu saya mendapatkan undangan khusus dari Pure Saturday (PS) melalui Pure People (semacam fans clubnya PS :p) untuk menghadiri acara yang disponsori oleh sebuah perusahaan rokok nasional yang berkaitan dengan launching salah satu produk mereka. Pada malam itu PS berkolaborasi dengan Adhitia Sofyan dan saling bertukar lagu. Ada juga request khusus untuk Kang Ade, bassist Pure Saturday yang diminta untuk menyanyikan lagu country.

Tidak banyak lagu yang PS bawakan, mungkin hanya 4-5 lagu saja, namun suasan terasa lebih intim dan santai, ditambah free flow air mineral, teh dan softdrink plus sedikit hidangan membuat semua penonton menikmati acara pada malam itu. Asap rokok rasanya masih bisa saya tolerir, bahkan oleh istri saya yang sedang hamil tapi pengen ikut nonton.. :D..

Selamat menikmati foto2nya..













Allex memotret dengan:
Nikon D90
Tamron 17-50 VR
post-process: Adobe Lightroom 3.3

Monday, April 18, 2011

Mancawarna Sarasvati, 2010/04/14




Sebuah Review Pribadi dari Konser Mancawarna Sarasvati
Bandung, 14 April 2011

Menjadi satu kebahagian tersendiri bagi saya untuk bisa hadir menyaksikan betapa indahnya pertunjukan Sarasvati malam itu di Teater Tertutup Dago Tea House Bandung yang bertajuk Mancawarna Sarasvati. Sesuai dengan tema tersebut, inilah sebuah konser yang menampilkan beragam warna, mulai dari sambutan dekorasi bernuansa kelam, lengkap dengan hantu-hantuan yang menambah kesan angker dan sesuai dengan image yang selama ini diciptakan Risa Saraswati dalam #ghostwit-nya, kemudian perpaduan antara musik tradisional, klasik dan modern yang ditambah aksi teatrikal di beberapa lagu serta kolaborasi dengan beberapa penyanyi seperti Vicky Burger Kill dan Cholil Efek Rumah Kaca, membuat sajian konser ini menjadi begitu matang.

Seluruh tiket yang disediakan panitia, baik itu pre-sale maupun on stage dinyatakan terjual habis. Dan walaupun hujan deras mengguyur kota Bandung sejak sore harinya, namun sepertinya tidak menyurutkan niat penonton untuk hadir dan memenuhi Teater Tertutup Dago Tea House tempat acara ini diselenggarakan. Simpati saya bagi rekan-rekan yang ingin menonton namun tidak kebagian tiket, bahkan sampai rela berhujan-hujanan. Mungkin di acara selanjutnya sebaiknya kita amankan dulu tiketnya sejak pre-sale kalau memang berniat menonton acara-acara musik seperti ini.

Acara dimulai sekitar pukul setengah delapan malam, dibuka dengan alunan suling kemudian Risa memasuki panggung, membawakan sebuah tembang berjudul Detik Hidup, menyiratkan dimulainya konser Mancawarna Sarasvati, yang disambut gemuruh tepuk tangan penonton. Waktu terus bergulir bersama lagu-lagu Sarasvati dari EP Story of Peter yaitu Fighting Club, Cut and Paste, Question dan Oh I Never Know yang seharusnya sudah tidak asing lagi di telinga penonton. Aransemen string ditambah Karinding Attack pada lagu-lagu tersebut sangat menarik untuk disimak, harmoni dan kolaborasi yang disajikan membuat lagu-lagu tersebut terasa lebih segar dan kaya akan bebunyian dari berbagai instrumen.

Saya setengah tak percaya ketika Risa mengatakan akan membawakan lagu ini, sebuah lagu dari Guruh Sukarnoputra yang berjudul Melati Suci. Sedikit berkisah tentang Melati Suci, lagu ini merupakan lagu yang syahdu, persembahan dari seorang anak kepada sang ibunda, Fatmawati, yang sedihnya tak sempat mendengarkan lagu ini karena beliau meninggal di Tanah Suci beberapa hari setelah Guruh menyelesaikan lagu ini. Guruh baru sempat menelpon dan mengatakan telah membuat sebuah lagu untuk beliau. Dari liriknya saya mencoba merasakan kedalaman rasa cinta dan hormat Guruh kepada Ibunya, seorang Ibu dan pahlawan sesungguhnya, yang dengan penuh ketulusan berjuang mendampingi Bung Karno, mengurus keluarga hingga memberikan jiwa raganya bagi negeri ini. Saat saya mendengarkan lagu ini (versi aslinya) dahulu, saya pernah berdiskusi dengan seorang teman, saat itu Risa masih menjadi vokalis Homogenic. Kami berdua sepakat kalau lagu Melati Suci ini paling cocok kalau dinyanyikan kembali oleh Risa dan membayangkan jika pada suatu ketika lagu ini dibawakan olehnya. Malam itu saya tak perlu lagi membayangkannya karena Sarasvati membawakan Melati Suci. My dream comes true, terimakasih Sarasvati, terimakasih Risa, ucap hati saya ketika itu.

Dari Melati Suci yang syahdu Sarasvati melanjutkan konser ini dengan lagu Bilur yang bercerita tentang kepedihan hidup seorang penembang kawih sunda bernama Ibu Mae. Rasanya suasana saat lagu ini dibawakan menjadi kareueung kalau kata orang sunda, sepi dan kelam, aransemen musik dan vokalnya membawa penonton pada nuansa tersebut, dan diakhiri oleh lirik sunda dari Ibu Ida yang menurut penuturan beliau lirik tersebut datang dari Ibu Mae. Believe it or not, it's up to you. Selanjutnya Sarasvati membawakan lagu Melati Putih karya Abah Iwan dan satu tembang dari Chrisye yang berjudul Kala Sang Surya Tenggelam disusul Tiga Titik Hitam yang berkolaborasi dengan Vicky Burger Kill. Disini konsentrasi saya terganggu karena harus menyerahkan tiket milik teman saya yang tidak jadi menonton dan dibeli oleh temannya si teman (pusing ya..:D). Tapi hal ini saya ambil positif saja sekalian melakukan manuver mencari tempat yang lebih baik untuk memotret.

Setelah satu lagu karya Franky Sahilatua yang berjudul Perjalanan, Sarasvati berkolaborasi dengan Cholil Mahmud dari Efek Rumah Kaca untuk membawakan salah dua lagu wajib nasional, yaitu Gugur Bunga dan Syukur. Malam itu lagu Gugur Bunga didedikasikan untuk Kang Ibing. Sebelum lagu ini dibawakan sempat diputar potongan film Kabayan Mencari Gadis Jujur yang dibintangi oleh alm. Kang Ibing, yang semasa hidupnya sangat aktif dalam memajukan seni dan budaya sunda melalui jalur komedi dan juga dalam dakwahnya. Saya pikir tidak berlebihan jika kita menganggap Kang Ibing sebagai pahlawan, dalam bidang seni dan budaya, khususnya budaya sunda. Dan saat sang pahlawan telah tiada, kita akan mengenang dan melanjutkan perjuangannya. Selamat jalan Kang Ibing.

Setelah lagu Aku dan Buih, pertunjukan Mancawarna Sarasvati akhirnya ditutup dengan lagu yang merupakan inti dari album Sarasvati, yaitu Story of Peter. Akhir yang sangat sempurna untuk konser malam itu. Sosok Peter dalam lagu itu ditampilkan keatas panggung oleh seorang anak lelaki yang berkulit putih dan berambut pirang dengan pakaian yang sesuai seperti anak-anak Belanda pada zaman penjajahan dulu. Konser Mancawarna Sarasvati pun selesai, meninggalkan beragam warna dan apresiasi bagi setiap penontonnya.


















Note:
Pertunjukan dengan gemerlap lampu yang indah di mata penonton belum tentu bersahabat dengan kebutuhan fotografer. Hal ini seringkali saya alami dalam memotret pertunjukan musik. Perlu kesabaran dan pengorbanan banyak shutter untuk mendapatkannya, kadang hasil-hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, tapi saya menyukai prosesnya :D.

25 foto ini mungkin rasanya masih kurang untuk merekam saat-saat bersama Mancawarna Sarasvati, namun semoga berkenan dengan foto-fotonya.

Allex memotret dengan:
Nikon D90
Tamron 17-50 VC f/2.8
Nikkor AF 35-70 f/2.8
Nikkor AF 80-200 D f/2.8

Special thanks to Risa Saraswati dan keluarga besar Sarasvati, Budi Susanto, Arditop, Asra Cantsaynotohope, Iit Omuniuum dan semua rekan yang bertemu di acara ini.. :D.