Showing posts with label foto. Show all posts
Showing posts with label foto. Show all posts

Wednesday, May 19, 2010

ERK @ EX, 2010/04/24




Dapet info dadakan dari Acho kalau ERK malam itu main di EX jam 8an malem.. stage-nya cukup kecil sehingga saya memiliki kesempatan untuk lebih banyak memotret Akbar, sang drummer. Di gigs2 sebelumnya cukup sulit karena selain jauh dari jangkauan pasisi drummer juga kadang terbenam dibalik tumpukan drum set. Walaupun penonton tak sebanyak biasanya tetapi posisi depan tetap penuh berdesakan. Saya tidak bisa memaksakan diri memotret dari depan. Seperti inilah jadinya, hehe..

Enjoy the photos..

Monday, December 7, 2009

Efek Rumah Kaca @ Green Fest 2009




Penampilan Efek Rumah Kaca pada acara ini terlambat sekitar kurang lebih setengah jam. Entah apa penyebabnya. Mungkin hujan lebat pada siang hari menyebabkan rangkaian acara tidak berjalan sebagaimana mestinya. Namun demikian para penggemar setia ERK sudah menunggu di depan panggung dengan sabar. Malam itu ERK membawakan kurang lebih 8 buah lagu. Saya kurang hapal set listnya, bahkan mereka sendiri tidak sempat menulis set list untuk acara ini karena mereka juga baru tiba dari Bandung untuk mengisi salah satu acara pensi di lapang Saparua.

Beberapa lagu yang saya ingat adalah lagu yang berjudul nama mereka sendiri, yaitu Efek Rumah Kaca. Lagu ini jarang dibawakan di gigs-gigs mereka selama ini, mungkin mereka membawakannya karena tema lagu yang diusung sesuai dengan tema acara Green Fest 2009. Selain itu ada juga Di Udara, Mosi Tidak Percaya dan beberapa lagu lain sebelum ditutup dengan lagu favorit istri saya, Desember.

Penonton tidak terlalu padat sehingga pergerakan saya di sekitar panggung cukup leluasa, mudah2an gak ada yang terblocking terlalu lama. Sedikit menyesal karena hanya membawa satu lensa sehingga tidak bisa mengeksplore wide angle, namun saya bisa lebih fokus untuk berlatih manual fokus. Maklum, lensanya di kamera saya gak bisa AF. Selamat menikmati foto-fotonya. Kriik dan saran selalu saya harapkan. See you on the next gigs.

Gear:
Nikon D40
Nikkor AF 50mm f/1.8 D
Editing dengan Capture NX 2 untuk post-process, ACDSee untuk resize and crop dan FotoFusion untuk kolase.

Tuesday, June 9, 2009

Pembukaan Pameran Tunggal Lukisan Karya Sri Warso Wahono Ke-15




Berikut ini sedikit dokumentasi dari acara yang tersebut pada judul. Pamerannya sendiri berlangsung dari tanggal 6 hingga tanggal 12 Juni nanti yang bertempat di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki Jakarta. Acara ini dibuka oleh Gubernur DKI Jaya, Bapak Fauzi Bowo.

Lumayan, sekalian belajar foto liputan.

Monday, September 22, 2008

Lebak Siliwangi, Titipan dari Anak Cucu Kita..




Foto-foto yang saya upload mungkin tidak terlalu mencerminkan hubungan antara judul dengan isinya. Ketertarikan saya menuju tempat ini berawal dari info2 teman2 di multiply seputar penggusuran kawasan hijau lebak siliwangi yang akan diubah menjadi kawasan parkir untuk menampung mobil2 mahasiswa ITB yang setiap tahun semakin berjubel sampai-sampai sepanjang jalan ganesha kini tidak lagi menjadi sepanjang jalan kenangan, tapi sepanjang tempat parkir. Info2 dari milis yang saya ikuti malah menyebutkan bahwa tempat ini juga akan dikembangkan menjadi apartemen dan mall. Selain itu gelanggang renang Sabuga dan sebagian lapang akan terkena penggusuran juga. Demikian sekilas info.

Kalau dipikir2 sebenarnya cukup memalukan juga, saya yang menghabiskan 23 tahun umur saya di Bandung baru pertama kali mengunjungi tempat ini. Kamana wae ateuh..? Padahal waktu ke kampus hampir tiap hari lewat. Saya berangkat sekitar pukul sepuluhan dari rumah, ambil nomer antrian servis motor dulu di bengkel langganan dan tiba di Babakan Siliwangi sekitar pukul sebelas.

Sesampainya disana saya melihat papan nama rumah makan babakan siliwangi yang khas itu. Papan itu sudah berkarat termakan usia. Rumah makannya sendiri sudah menghilang entah kemana sejak terbakar pada tahun 2003-an kalau tidak salah, dan tidak pernah dibangun lagi. Tidak jauh dari situ masih berdiri pabrik pengolahan air mineral cap gajah duduk.

Pandangan saya arahkan menyusuri jalan aspal yang sudah tidak lagi rata. tampak puing-puing rumah makan dan pepohonan yang rimbun tidak jauh dari situ. Setelah menyusuru jalan itu saya melihat ada dua buah sanggar seni. Orang-orang di salah satu sanggar seni itu tampak sibuk memasang spaduk acara buka puasa bersama yang akan dilaksanakan pada sore harinya. Walaupun tepat disebelah kawasan ini adalah Jalan Siliwangi yang selalu padat oleh kendaraan, namun saya tidak merasakan nuansa jalan raya disekitar area ini. Cuaca siang hari itu cukup panas, tapi berteduh dibawah pohon besar sambil merasakan angin sepoi-sepoi membuat saya merasa sejuk. Saya berhenti sejenak untuk mengambil beberapa gambar. kemudian melanjutkan olah TKP.

Jalan kecil ini berakhir di kawasan Sasana Budaya Ganesha. Sebelumnya saya sempat melihat lapangan yang biasa dipakai sebagai tempat adu domba. saya ingin mengambil foto di sekitar situ tapi saya urungkan niat karena banyak penduduk lokal yang sedang beristirahat di "saung-saung"nya.

Secara umum tempat ini masih cukup rimbun walaupun boleh dibilang sangat tidak terawat. Selain dua sanggar seni dan kantor kelurahan, saya melihat banyak sampah disekitar kawasan ini. Ada juga yang membangun gubuk ilegal disini.

Berdasarkan info yang saya miliki, ruang terbuka hijau yang dimiliki Kota Bandung sudah semakin tipis. Saya duduk sejenak dan membayangkan kalau tempat ini tidak lagi hijau dan berganti bangunan beton yang berdiri kokoh. Akan banyak sekali alasan mengapa tempat ini harus dipertahankan sebagai kawasan hijau dan saya pikir saya memposisikan diri saya diantara mereka2 yang memahami pentingnya pelestarian kawasan ini sebagai green belt Kota Bandung.

Dengan adanya mall, lahan parkir dan apartemen tentunya pendapatan daerah Kota Bandung akan semakin bertambah. Pemasukan dari sektor perdagangan dan pajak pun tentunya akan meningkat. Namun hal-hal ini akan dibayar mahal 5-10 yang akan datang, ketika generasi penerus bangsa ini tumbuh besar. Kota Bandung akan semakin panas, daerah resapan air akan menurun drastis yang diikuti oleh penurunan kualitas air tanah. Lingkungan yang hijau, udara segar, hawa sejuk yang alami dan air tanah yang bersih adalah kekayaan yang tak bisa dibeli dengan instant. Butuh waktu cukup lama dan dana yang besar untuk memulihkan kondisi lingkungan yang rusak untuk kembali normal. Apakah ini semua sebanding dengan pembangunan kawasan ini?

Lamunan saya terhenti oleh suara perut yang keroncongan, tapi buka puasa masih 6 jam lagi.. weleh. Dan saya pun harus beranjak pergi dari Babakan Siliwangi karena memang semuanya sudah dijelajahi.

Bagi yang ingin mengisi petisi silakan isi sebanyak2nya, tapi saya lupa lagi linknya euy, hehe.. cuba tolong dibantu ya.. buat yang mau demo besok pagi juga saya cuma bisa mendukung dan mendoakan dari kantor di Ibu Kota, yah kieu lah nu nuju nyaba mah. punten teu tiasa ngiringan...

Selamatkan Babakan Siliwangi!!

-judul saya ganti, sepertinya lebih cocok yang ini..:D, sedikit terinspirasi (baca:nyontek) dari sebuah iklan layanan masyarakat jaman dahulu kala-

Flowers Outside The Window




Akhirnya sang Samurai berhasil memiliki pedang.. Setelah selama ini mengembara dengan kamera pinjaman kanan kiri alhamdulillah kamera yang dicita2kan kebeli juga. Nikon D-40. Buat saya harganya termasuk mahal sekali. Setelah melalui berbagai pertimbangan yang cukup sulit, akhirnya saya putuskan juga untuk membelinya.. mumpung masih bujangan lah, begitu menurut salah satu sisi otak saya.. :D, kalau sudah berkeluarga mungkin lebih banyak pertimbangan.. beli susu istri dan kebutuhan lainnya..

Foto2 ini diambil hari Sabtu lalu waktu pulang ke Lembang. Hunting pertama dilakukan di depan rumah. kebetulan sekali bunga2nya lagi pada mekar, tapi saya jadi bingung mau moto apa aja.. demam kamera sepertinya.. Setelah berkeliling jepret sana jepret sini akhirnya diperoleh beberapa gambar ini. Buat suhu2 yang sudah lebih dulu malang melintang mohon pencerahannya..

Sunday, May 4, 2008

Sore @ Opulence 2008/05/03




Rasa penasaran atas kesuksesan launching mereka di PPHUI beberapa waktu lalu membuat saya kembali datang ke acara bertema sama yang diselenggarakan di hometown saya, Bandung. Selain itu, sudah lama juga saya tidak menonton live musik bersama teman2 di bandung (ini bohong, padahal baru seminggu sebelumnya nonton radio dept. di bandung).

Memborong selusin tiket yang didistribusikan dengan baik pada teman2. Ada dua tiket yang tidak jadi dipakai karena teman saya mendadak tidak bisa datang, tapi tiket tersebut masih bisa dijual di venue. lumayan lah, teu rugi.

Satu jam sebelum acara dimulai turun hujan deras. Walaupun saya nongkring di kampus tempat saya kuliah dulu yang jaraknya sangat dekat dengan Opulence, tetap saja saya harus berbasah2 untuk mencapai lokasi saking derasnya hujan. Untung aja dandanan saya tidak luntur jadi masih bisa mencapai lokasi dalam keadaan kasep wal afiat (yakk.. satu pisau melesat hampir mengenai kepala..).

Tim nonton bareng SORE malam itu adalah Saya, Aa Dado, Ersa dan "hihiyynya", Nana qiut dan 3 barayanya (baraya means sodara.. bukan travel..).. ada juga kuya soni, mang aries dan calon, dan bintang tamu Risa Saraswati yang sempet mampir buat poto bersama.. (hihiyy lagii..:p). Ada juga Lutfi Elemental Gaze yg dateng sendiri dan Ciwi yg dateng bareng ganknya, tidak ketinggalan Om Uji dan juga Boit yang dateng bersama ganknya. Sangat menyenangkan klo dateng ke acara bersama orang2 yang kita kenal. Sepertinya lebih asik klo dateng bersama lawan jenis yang kita sayangi.. tapi apa daya..

Sebelum curhat saya semakin menjadi2 baiklah, kita masuk ke dalam. Melihat set panggung yang minimalis, akustik ruangan dan miskinnya cahaya di venue saya mulai curiga kalau soundnya tidak akan sehebat launching SORE di PPHUI dan saya akan mengalami masalah besar dalam memotret mereka.

Dan kecurigaan saya menjadi kenyataan. Walaupun untuk masalah sound saya masih bisa mentolerir dan menikmati acara, namun untuk hasil foto saya hampir nangis darah kalo saya gagal menahan diri untuk menusukkan dua jari ini ke mata saya.. terlalu banyak menggunakan blitz malah membuat hasil potonya jadi seperti panggung tujuh belasan.. jadi kurang nyeni ceuk guru kesenian saya mah.. tapi kalo tidak senjata saya mentok.. gak bisa ngambil gambar dengan bagus.. jadina pararoek (sambil melirik iri pada kamera Nikon D80 yang pake blitz lengkap dan lensa tele yang harganya lebih mahal dari kameranya itu sendiri).

Band pembuka malam itu adalah Cascade, salah satu finalis LA Indiefest 2007 yang tampil dengan lagunya. Akhirnya setelah tiga kali gagal menonton Cascade malam itu bisa kesampean juga. Walaupun saya belum kenal lagu2 mereka tapi saya bisa langsung satu frekuensi dengan lagu2 mereka. Diantos launching albumnya.

Wokeh, tepuk tangan meriah mengakhiri penampilan Cascade dan penonton pun beristirahat sejenak sambil menantikan penampilan SORE. Sambil melihat kru memasang peralatan saya mencari posisi enak di depan panggung yang ketika saya duduk langsung disambut dengan kukulutus oleh seorang gadis yang pandangannya mungkin bakal terhalang oleh saya. Punten nya neng, tapi bijimane atuh, itu tempat kosong. Kalo saya nyele2 sih boleh marah lah, apalagi kalo sampai melakukan pelecehan seksual, boleh seret saya ke pengadilan.

Satu persatu personil memasuki panggung. Additional player tidak sebanyak kesebelasan sepakbola, hanya tiga orang trio sepak takraw saja, yaitu seorang peniup flute, satu pada saxophone dan satu lagi pada programming dan multi instrument. SORE langsung menggebrak dengan Bogor Biru dan Vrijeman, wala yang sama dengan launching di Jakarta. Kemudian urutan lagu2 berikutnya sedikit berbeda. Lagu ketiga adalah Come by Sanjurou disusul oleh Layu. entah kerena venue yang kecil atau penonton yang memang antusias saya cukup kaget ketika mendengar sebagian besar audience hapal dengan lagu2 di album kedua ini, padahal cdnya belum ada sebulan dilaunching. Apakah animo yang bagus atau karena mp3 bajakannya sudah lama beredar, entahlah, yang pasti saya mematikan kamera dan ikut bertepuk tangan ketika intro lagu Layu dimulai..

LAgu berikut yang dimainkan adalah In 1997 The Bullet was Shy. Sebuah lagu yang mendayu2 dan sedikit menurun tempo sebelum mereka kembali menggebrak dengan lagu merintih perih. Panggung yang kecil membawa sedikit keuntungan buat saya yang duduk didekat mereka. Saya bisa lebih memperhatikan bagaimana mereka bermain, bagaimana mereka berkomunikasi dan saling menyesuaikan pada setiap lagu. Untuk panggung seperti itu bantuan tiga orang additional sudah cukup untuk lebih menghidupkan musik SORE.

Senyum dari selatan menjadi lagu berikutnya, sebuah lagu tentang cinta kepada seseorang yang telah menjadi milik orang lain.. bukan jodo itu pedih jenderal.. tapi apa mau dikata, cari saja jodoh yang lain. DI lanjut dengan 400 elegi, salah satu lagu pada album ini yang butuh waktu lama untuk saya cerna..

Kembali SORE menurunkan tempo dengan membawakan lagu Apatis Ria dan Karolina. Para penonton ikut bernyanyi bersama. Setelah ini barulah single pertama dimainkan, apalagi kalau bukan Essensimo, suasana kembali menjadi hangat dan semakin hangat ketika lagu Setengah Lima diperdengarkan.

Mungkin saya sedikit miss mengenai urutan yang satu ini, yaitu ketika SORE kembali mendatangkan Bapak Rio Dalimonthee, dari The Pacifics dan The Timebreakers yang malam itu kalo gak salah tampil membawakan dua lagu Rock n Roll, satu dari Elvis satu lagi gak tau dari siapa. Malam itu beliau tampil bersama David Tarigan dari Aksara Records dan sebagian personel SORE.

Ernestito mengakhiri seluruh lagu pada album kedua ini. Dan seperti biasa, dua bonus lagu untuk semua. Tidak ada aksi turun panggung dan menunggu penonton berteriak we want more karena jalur masuk panggung yang harus melewati penonton dan bakal terkesan garing kalo mereka pake acara seperti itu. Dua lagu yang sama dengan launching terdahulu, Pergi tanpa Pesan dan No Fruits For Today..

Secara umum saya tetap puas dengan acara malam itu. apalagi saat acara selesai waktu belum menunjukkan pukul sebelas sehingga masih ada cukup waktu untuk mencari makan sebelum rasa kantuk menyerang dan alfred memanggil saya untuk kembali ke batcave..

Sekali lagi selamat untuk SORE.. what a nice weekend again.. dan sebagai oleh2 inilah foto2nya.. see you on the next gigs..

Sunday, April 27, 2008

OZ Box Show: (Part 2 of 3)




sambungan dari sini

Oke, lepas dari Homogenic kali ini saya harus kasak kusuk lagi menerobos kerumunan orang mencari posisi strategis untuk menonton dan mengambil foto. akhirnya saya dapat posisi yang lumayan. Sayangnya saya berada ditengah2 fans berat ERK yang berkerumun cukup padat dan sangat menikmati penampilan ERK malam itu. Lighting untuk ERK yang buruk pun membuat saya sangat kesulitan untuk mengambil foto mereka.

Disini juga ERK memperkenalkan lagu baru untuk album berikutnya. Rupanya band2 yang tampil malam ini memang sedang bersiap untuk meluncurkan album mereka berikutnya. Semoga tidak kalah dengan kesuksesan album2 sebelumnya.

Sayang sekali saya lupa lagu2 apa saja yang dimainkan oleh ERK, maklumlah jauh dari panggung jadi gak bisa nyolong set-list. Yang pasti penampilan mereka ditutup dengan lagu Di Udara.. Pada saat lagu ini dibawakan saya sudah berada sedikit dibelakang karena stres ngambil foto gagal melulu, kedorong2 sama fans beratnya ERK dan bau ketek.. alamak.. Daripada pingsan mending mundur aja lah.

Pemirsa, sekarang geser lagi ke kiri.. kali ini giliran RNRM yang beraksi. Malam itu mereka banyak dibantu dengan additional musician dan juga featuring DJ siapa namanya.. kok tiba2 lupa ya.. Duh.. daya ingat kok tambah kacaw bgini.. Saya kembali ke posisi wuenak yang sudah dilindungi oleh teman saya, Arif Jepang yang sudah setia berada di posisi tersebut.

Penampilan RNRM malam itu luar biasa, bagi saya malah terasa mereka yang tampil sebagai bintang utama acara itu. Sejenak saya lupa dengan tampilnya Radio Dept. setelah ini. Setelah cukup banyak membawakan lagu, baik lagu baru maupun lagu dari album pertama, RNRM mengakhiri penampilan mereka dengan lagu Zsa Zsa Zsu yang di bawakan secara unik, memutar rekaman lagu tersebut dalam remix yang sedikit berbeda dengan lagu aslinya, semua personil asli RNRM undur dari pangung dan tinggalah para additional player ikut mengaransemen lagu tersebut.

Break sekitar duapuluh menit dan kita menuju ke puncak acara malam itu

bersambung kesini

OZ Box Show: (Part 1 of 3)




Sedikit catatan ringan sebelum saya tidur mengenai pengalaman saya menonton acara ini.

Saya tiba di Eldorado pukul 19.30-an. Dijalan motor saya sempat mogok karena kehabisan bensin sehingga saya terpaksa mendorong motor dari UPI hingga terminal ledeng sambil menutup muka dengan helm karena gengsi.. di ledeng saya iseng starter motor, alhamdulillah masi ada setetes dua tetes bensin (ini hiperbola) sehingga motor masih bisa saya geber ke pombensin terdekat. kebayang aja klo harus ngedorong motor ampe pom bensin itu, setengah kiloan dengan rute menanjak.. bisa bucat bitis ceuk babaturan saya mah..

Setibanya di venue saya bergabung bersama teman2 yang sebagian diantaranya nonton konser sore juga. Antrian masuk cukup panjang sehingga saya ketinggalan untuk menyaksikan penampilan Goodnight Electric.

Ditengah suasana yang kurang nyaman karena acara sudah berlangsung sementara kami masih nongkring di luar seperti bebek, terlebih yearry yang tiketnya belum dateng karena temen saya yang bawa tiketnya dia masih di perjalanan, teman saya dessy tiba2 menghilang dan tak berapa lama meng-sms saya, "lex the milo udah main.." 5 menitan kemudaian "lex the milo udah lagu kedua..".. Arrgghh.. tidak!!.. Niat saya dateng kesana selain buat nonton Radio Dept yang bikin penasaran seperti apa live-nya juga untuk melihat penampilan dua band yang sudah lama saya tunggu2, yaitu the milo dan homogenic. Saya burur2 ke deket pintu masuk dan melihat disebelah kanan antriannya ternyata kosong. Ini orang2 pada oon atau apa ya kok antrinya cuma di satu sayap aja. gak ada sattu menit saya bisa masuk dan menyaksikan Aji dan kawan2 sedang membawakan lagu Dreams.. Saya mengambil nafas sejenak kemudian mengambil kamera dan mulai jepret2. Seperti dugaan saya.. lighting di acara Oz yang ini gak ada bedanya dengan waktu acara Telefon Tel Aviv dulu. Busuk buat buat penonton yang ngambil foto jauh dari panggung.

Saya kurang begitu hapal urutannya tapi lagu2 yang bakal menjadi materi album selanjutnya (iraha launcingna atuh..? :p) mengisi hampir seluruh setlist The Milo pada malam itu. Ada So Regret dan Stetoskop. Para penonton mendengarkan dengan khidmat. Sebagian penonton menikmati lagu ini sambil menutup mata (Kalo dengerin kaset The Milo saya juga senengnya sambil menutup mata dan membiarkan fikiran terbang bebas, tapi lamun dina konser mah asa lebar jauh2 datang terus peureum..). Lagu lama yang dimainkan adalah Romantic Purple. Penonton pun bernyanyi besama. Walaupun ketinggalan satu lagi saya tetap puas dengan penampilan The Milo pada malam itu.

Usai The Milo perhatian penonton beralih pada sayap sebelah kiri (dari sudut pandang penonton). Kalau diperhatikan dari setting alatnya semua pasti hapal siapa selanjutnya yang akan tampil. Ya.. the next performer is Homogenic. Dengan penampilan yang lagi2 unik, kali ini Risa dan Dina tampil dengan mengenakan peci tentara veteran. Penampilan yang juga mengundang celetukan usil dari para penonton.

Malam itu Homogenic juga banyak membawakan lagu2 dari album ketiga yang rencananya akan keluar tahun ini. Masih dengan ciri khas electropop Homogenic dan angelic voice Risa Saraswati, lagu2 baru ini terasa sedikit berbeda dari album pertama maupun kedua.. Lagu lama yang saya ingat mereka mainkan malam itu adalah Utopia, satu lagu dari album pertama yang kalo gak salah judulnya spread of the light (cmiiw), serta lagu penutup yang merupakan salah lagu favorit saya.. Solaris..

kembali lagi ke sayap kanan, kita akan berjumpa dengan Efek Rumah Kaca..

bersambung

Wednesday, March 26, 2008

Things Around Me




Hari minggu yang aneh.. karena saya bisa bangun pagi.. udara diluar rumah lumayan dingin.. pagi sudah cukup terang tapi matahari belum muncul.. sebelum embun menguap saya berjalan2 keliling halaman dan jalan didepan rumah.. mumpung masih ada kamera pinjeman dari renal akhirnya saya iseng2 sejepret dua jepret..

Selain kembang putih (ada yang tau namanya? saya lupa nanya ama babeh) yang dirawat oleh babeh karena emang itu kembang buat dijual, bunga yang lainnya relatif liar.. maksudnya dibiarkan tumbuh apa adanya.. dideket pager juga saya nemu seekor laba2 yang berukuran cukup besar dan sepertinya sudah bersarang lama disana..

pulang ke rumah ortu dua minggu sekali mungkin membuat saya sering melewatkan momen2 seperti ini.. saya baru sadar kalo didepan rumah ini banyak sekali pemandangan indah yang selama ini sering saya lewatkan walaupun itu hanya bunga liar atau serangga kecil yang berkeliaran.. dan dua hal lagi yang sama sekali tidak akan pernah saya dapatkan di kota jakarta.. alhamdulillah, kabut dan udara pagi yang segar..